Ketua FIFPro: Banyak Pemain Elite Takut Bicara Terlalu Jujur soal Banyaknya Pertandingan

FIFPro Bongkar Tekanan Diam di Sepak Bola: Pemain Top Takut Bersuara Soal Jadwal Padat
Ketegangan antara serikat pemain global FIFPro dan badan sepak bola dunia FIFA semakin memanas. Dalam pertemuan dengan 58 serikat nasional yang digelar di Amsterdam, sekjen FIFPro Alex Phillips mengungkapkan fakta mencengangkan: banyak pesepakbola top dunia takut bersuara soal beban pertandingan berlebihan karena takut akan dampaknya terhadap karier mereka.
“Saya Hanya Akan Beristirahat Saat Cedera”
Phillips membagikan kisah nyata yang ia dengar langsung dari para pemain elit dunia:
“Salah satu dari mereka berkata, ‘Saya hanya akan beristirahat saat cedera.’ Yang lain malah sinis dan pasrah ketika harus bersuara,” ujar Phillips.
Situasi makin ironis karena beberapa dari pemain yang mengeluh justru muncul dalam video promosi FIFA yang menyebut Piala Dunia Antarklub sebagai “turnamen hebat”. Ternyata, video itu dibuat karena perintah dari klub atau federasi mereka.
“Mereka bisa bersuara, tapi mungkin ada konsekuensinya,” tegas Phillips.
FIFA Dituduh Mengabaikan Hak Dasar Pemain
Fokus FIFA terhadap ekspansi Piala Dunia Antarklub 32 tim, yang baru saja selesai digelar di Amerika Serikat, dinilai FIFPro sebagai bentuk pengabaian terhadap isu-isu mendasar pemain:
Jadwal pertandingan yang kelebihan beban
Risiko suhu ekstrem di lokasi pertandingan
Pengabaian terhadap hak-hak sosial pemain
Dalam pernyataan resmi, FIFPro menilai langkah FIFA:
“Tidak dapat diterima jika organisasi yang mengklaim kepemimpinan global justru menutup mata terhadap kebutuhan paling dasar para pemain.”
Dituduh Menjalankan “Otokrasi”
Pernyataan keras juga datang dari Presiden FIFPro Sergio Marchi, yang menyebut Presiden FIFA Gianni Infantino sebagai pemimpin yang menjalankan FIFA secara “otokratis”.
Lebih parah lagi, FIFPro bahkan tidak diundang ke pertemuan penting yang digelar FIFA sehari sebelum final Piala Dunia Antarklub di New York—sebuah langkah yang disebut banyak pihak sebagai pengucilan serikat pekerja secara terang-terangan.
FIFA: FIFPro Hanya Cari Panggung?
Tak tinggal diam, FIFA pun mengeluarkan balasan resmi:
“FIFA kecewa dengan nada konfrontatif FIFPro yang lebih memilih jalur publik daripada dialog konstruktif.”
Mereka juga menuding bahwa kepemimpinan FIFPro lebih mementingkan “posisi dan kepentingan pribadi” daripada kesejahteraan pemain sesungguhnya.
Ancaman Krisis Hubungan Industri?
Kisruh ini menjadi tanda keretakan serius antara pemain dan otoritas sepak bola global. Dengan pemain-pemain top takut bersuara, dan FIFA dinilai terlalu sibuk ekspansi turnamen demi komersialisasi, masa depan kesejahteraan pemain profesional kini benar-benar dipertaruhkan.
FIFPro menyerukan revisi menyeluruh terhadap kalender pertandingan dan hak istirahat, termasuk melibatkan pemain dalam pengambilan keputusan. Jika tidak, tekanan fisik dan mental pemain bisa memicu krisis global yang lebih besar di sepak bola modern.